Naskah Khutbah Jumat: Merajut Persatuan di Tanah Merdeka

Avatar admin
Naskah Khutbah Jumat: Merajut Persatuan di Tanah Merdeka

Oleh : Endang Yusro

Anggota IDRI Banten, Pengurus ICMI Orwil Banten dan Kepala SMA Muhammadiyah Kota Serang

Khutbah Pertama

 الْسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الْلَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنَّ الحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِيْرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًا ۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

عِبَادَ اللَّهِ، أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ! أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah S.W.T., yang telah melimpahkan Nikmat-Nya berupa iman, Islam, dan ihsan. Nikmat persaudaraan, dan nikmat kemerdekaan yang tak ternilai harganya kepada kita.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw., teladan paling mulia dalam menegakkan kebenaran sekaligus kasih sayang antar sesama manusia.

Hadirin rahimakumullah,

Seringkali kita mengira puncak iman hanya ditandai dengan banyaknya ibadah sunnah, panjangnya tilawah, atau ketinggian ilmu yang dikuasai. Padahal, Rasulullah SAW memberikan ukuran yang sangat nyata tentang sempurnanya iman seseorang:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

“Orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang paling lemah lembut kepada keluarganya.” (HR. Tirmidzi no. 1162; Abu Dawud no. 4682, dinilai hasan sahih)

Kemudian dalam riwayat lain, Rasulullah Saw. bersabda:

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan amal selain akhlak yang baik.” (HR. Abu Dawud no. 4798; dan Tirmidzi no. 2002)

Salah satu wujud akhlak mulia yang menjadi puncak ketinggian iman adalah Toleransi. Toleransi bukan berarti meleburkan keyakinan, bukan pula mengorbankan prinsip agama. Toleransi dalam Islam adalah sikap teguh pada kebenaran yang diyakini, namun tetap menghormati hak hidup, martabat, dan keyakinan orang lain.

Allah S.W.T. berfirman dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًا ۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ

“Dan janganlah kamu mencela apa yang mereka sembah selain Allah, karena mereka akan mencela Allah dengan melampaui batas karena tidak mengetahui.” (QS. Al-An’am: 108)

Ayat ini mengajarkan kita berbeda pendapat, berbeda keyakinan, tidak boleh menjadi alasan untuk saling menghina, menyakiti, atau memutus hubungan persaudaraan.

Hadirin Shalat Jum’at rahimakumullah,

Saat ini, sebentar lagi kita akan berada di suasana mengenang perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, tempatnya pada Hari Kemerdekaan 17 Agustus.

Para pendahulu kita merajut kemerdekaan bukan hanya dengan senjata, melainkan dengan kekuatan persatuan. Di bawah naungan Bhinneka Tunggal Ika, beragam suku, agama, ras, dan golongan bersatu mengusir penjajah.

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar, selalu menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah karunia Allah yang harus dijaga. Persatuan bangsa adalah amanah. Dan pondasi persatuan yang paling kokoh adalah toleransi.

Tanpa toleransi, kemerdekaan hanyalah kebebasan yang semu. Tanpa tenggang rasa, kemajuan yang kita bangun akan mudah runtuh oleh perpecahan.

Sebagaimana firman Allah SWT:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Untuk itu, marilah kita tingkatkan iman kita dengan merawat toleransi. Jangan biarkan perbedaan menjadi tembok pemisah, melainkan jembatan untuk saling melengkapi. Jadikan momen kemerdekaan ini sebagai pengingat: kita merdeka untuk saling mengasihi, bukan untuk saling bermusuhan.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَالصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَلَى مُحَمَّدٍ أَشْرَفِ الْخَلْقِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُسْلِمُونَ

عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ! اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hadirin jamaah yang dirahmati Allah,

Di khutbah kedua ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa yang nyata tercermin dalam sikap hidup yang damai, rukun, dan saling menghargai sesama warga bangsa.

Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini bukanlah akhir dari perjuangan. Kemerdekaan adalah awal dari tanggung jawab besar untuk menjaga persatuan. Mari kita tanamkan dalam diri, keluarga, dan lingkungan: Pertama, teguh menjalankan ajaran agama masing-masing.

Kedua, menghormati perbedaan keyakinan orang lain. Ketiga, bersinergi membangun kemajuan bersama tanpa memandang latar belakang. Dengan begitu, kita telah mewujudkan puncak iman yang sesungguhnya, dan menjadi warga negara yang merdeka seutuhnya di bawah naungan Allah SWT.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

 اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلاَمَة ًفِى الدِّيْنِ وَعَافِيَة ًفِى اْلجَسَدِ وَ زِيَادَةً فِى اْلعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الِّرزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ اْلمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ

 رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ

Please follow and like us:
fb-share-icon
Tweet 20
fb-share-icon20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Luar Negeri:
1500 — 1960

Sebuah pameran tentang representasi yang berbeda dari laut sepanjang waktu, antara abad keenam belas dan kedua puluh. Berlangsung di Ruang Terbuka kami di Lantai 2 .

RSS
Follow by Email
WhatsApp