Amal Insani Foundation sukses Gelar Konferensi Nasional ke 4 : Transformasi Digital dan Kecerdasan Buatan untuk Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal

Avatar admin
Amal Insani Foundation sukses Gelar Konferensi Nasional ke 4 : Transformasi Digital dan Kecerdasan Buatan untuk Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal

Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-9 Amal Insani Foundation, diselenggarakan Konferensi Nasional bertema “Transformasi Digital dan Kecerdasan Buatan untuk Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal” pada 16 Desember 2025. Kegiatan ini menjadi forum strategis yang mempertemukan akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan untuk membahas arah kebijakan dan praktik transformasi digital di Indonesia agar tetap berakar pada nilai-nilai budaya bangsa.

Konferensi menghadirkan empat narasumber utama, yakni Prof. Dr. Anis Fauzi (UIN SMH Banten), Prof. Dr. Renea Shinta Aminda (Universitas Ibn Khaldun Bogor), Prof. Dr. Ir. Eka Sari, MT (Universitas Sultan Ageng Tirtayasa), dan Dr. Rahayu Permana, M.Hum (Universitas PGRI Indraprasta Jakarta). Masing-masing narasumber memaparkan gagasan komprehensif yang menegaskan bahwa transformasi digital dan kecerdasan buatan (AI) harus diarahkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan secara inklusif.

Prof. Anis Fauzi saat memberikan paparan materi. (sumber foto: tangkapan layar)

Dalam paparannya, Prof. Anis Fauzi menekankan bahwa sektor pendidikan memegang peran sentral dalam menyiapkan generasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Menurutnya, pembelajaran di era digital harus berorientasi pada penguatan literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia.

“Kecerdasan buatan tidak boleh menggantikan peran guru sebagai pembentuk karakter. AI adalah alat bantu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi nilai, etika, dan empati tetap dibangun melalui sentuhan manusia,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa integrasi AI dalam pendidikan harus tetap berpijak pada kearifan lokal agar peserta didik tidak kehilangan identitas budaya di tengah arus globalisasi digital.

Sementara itu, Prof. Renea Shinta Aminda menyoroti pentingnya kesiapan sumber daya manusia sebagai fondasi utama transformasi digital. Ia mengingatkan bahwa percepatan adopsi teknologi tanpa peningkatan kompetensi akan memperlebar kesenjangan sosial.

“Transformasi digital bukan sekadar soal teknologi, melainkan soal kesiapan manusia. Reskilling dan upskilling harus menjadi gerakan nasional agar SDM Indonesia mampu berkolaborasi dengan teknologi, bukan tergantikan olehnya,” ujarnya.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan industri mutlak diperlukan untuk menciptakan ekosistem talenta digital yang kompetitif sekaligus beretika.

Dari perspektif akses teknologi, Prof. Eka Sari memaparkan tantangan infrastruktur digital yang masih belum merata. Ia menekankan pentingnya pemerataan konektivitas, terutama di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

Prof. Dr. Ir. Eka Sari menyampaikan materi seminar

“Transformasi digital tidak boleh eksklusif. Akses internet yang merata dan infrastruktur yang kuat adalah prasyarat agar seluruh masyarakat dapat merasakan manfaat kecerdasan buatan,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya keamanan siber dan perlindungan data pribadi sebagai elemen penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap teknologi digital.

Adapun Dr. Rahayu Permana dalam perspektif budaya lokal menegaskan bahwa teknologi harus dibangun di atas nilai-nilai sosial dan kultural masyarakat Indonesia. Ia mengingatkan bahwa pembangunan berkelanjutan tidak hanya berbicara tentang ekonomi dan lingkungan, tetapi juga keberlanjutan identitas budaya.

“Kearifan lokal adalah kompas moral dalam pengembangan teknologi. Tanpa itu, transformasi digital bisa kehilangan arah dan menjauh dari jati diri bangsa,” ungkapnya.

Ia mencontohkan pemanfaatan AI untuk digitalisasi arsip budaya, pelestarian bahasa daerah, dan pengembangan konten kreatif berbasis tradisi sebagai bentuk konkret sinergi antara inovasi dan budaya.

Dr. Rahayu Permana, M.Hum

Achmad Rozi El Eroy selaku CEO Amal Insani Foundation dalam sambutannya menyampaikan bahwa konferensi ini merupakan bagian dari komitmen lembaga untuk terus berkontribusi dalam pengembangan pemikiran strategis bangsa. Selama sembilan tahun berdiri, Amal Insani Foundation konsisten mendorong kolaborasi lintas sektor demi terwujudnya pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Diskusi yang berlangsung dinamis memperlihatkan kesamaan pandangan bahwa transformasi digital dan kecerdasan buatan bukan sekadar tren global, melainkan agenda strategis nasional. Dengan pendekatan yang holistik—mengintegrasikan pendidikan, kesiapan SDM, pemerataan akses teknologi, dan penguatan budaya lokal—Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan kemajuan digital secara optimal tanpa kehilangan akar nilai dan identitasnya.

Konferensi Nasional ini menjadi momentum reflektif sekaligus progresif dalam menyongsong masa depan digital Indonesia yang berdaya saing, inklusif, dan tetap berlandaskan kearifan lokal.

Please follow and like us:
fb-share-icon
Tweet 20
fb-share-icon20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Luar Negeri:
1500 — 1960

Sebuah pameran tentang representasi yang berbeda dari laut sepanjang waktu, antara abad keenam belas dan kedua puluh. Berlangsung di Ruang Terbuka kami di Lantai 2 .

RSS
Follow by Email
WhatsApp