Fiskal Prabowo: Antara Optimisme 7% dan Tantangan Populisme
Pemerintahan Presiden Prabowo tampaknya menaruh perhatian besar pada kebijakan fiskal. Fokus utamanya adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas belanja negara, memperkuat pembangunan daerah, dan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. Strategi ini tidak hanya bertujuan mengejar pertumbuhan ekonomi, tapi juga memastikan manfaat pembangunan bisa dirasakan lebih merata hingga ke daerah.
Prabowo bahkan optimis Indonesia mampu menyentuh angka pertumbuhan 7% pada akhir 2025. Keyakinan ini lahir dari data semester pertama yang sudah tumbuh di atas 5%, ditambah target swasembada pangan dan energi yang diyakini bisa memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Namun, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa untuk menjaga konsistensi hingga 7%, kinerja ekonomi di kuartal-kuartal berikutnya harus tetap terjaga tinggi—sesuatu yang tidak mudah di tengah kondisi global yang dinamis.
Meski begitu, ada catatan kritis. Beberapa kebijakan awal dianggap terlalu populis dan berpotensi menekan penerimaan negara, misalnya pembatalan rencana kenaikan PPN 12%. Jika tidak dikelola hati-hati, risiko defisit bisa melebar dan justru mengganggu stabilitas fiskal jangka panjang.
Di sisi lain, rancangan fiskal jangka menengah (RPJMN 2025–2029) cukup ambisius. Pendapatan negara ditargetkan naik, belanja negara diarahkan ke sektor produktif seperti infrastruktur, pendidikan, dan riset, serta reformasi perpajakan mulai digerakkan dengan sistem administrasi baru. Transfer ke daerah juga meningkat meski belum signifikan. Semua ini menjadi pondasi penting untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Tantangannya ada pada implementasi. Apakah belanja benar-benar produktif? Apakah koordinasi antarinstansi berjalan mulus? Apakah reformasi pajak bisa efektif tanpa mengganggu dunia usaha? Jika dijalankan dengan konsisten, target 7% memang sulit, tapi bukan mustahil. Namun jika terlalu banyak kebijakan populis yang menggerus penerimaan, maka ambisi besar ini bisa terganjal.
Dengan kata lain, kunci fiskal Prabowo ada pada keseimbangan: antara ambisi pertumbuhan dengan kehati-hatian fiskal, antara dorongan belanja dengan kapasitas penerimaan. Jika keseimbangan itu bisa dijaga, optimisme ekonomi Indonesia menuju 7% pertumbuhan akan lebih dari sekadar retorika.
Penulis: Achmad Rozi EL Eroy, Ketua IDRI Banten

















Tinggalkan Balasan