cropped-kop_surat_Amal_Insani_Foundation_PNG3-removebg-preview.png
Previous
Next

Oleh: Yadri Irwansyah.

Dilansir dari Teropong Metro (7/2/2022) ternyata tidak banyak sumber yang membahas jika Lafran Pane (pendiri HMI) adalah seorang Muhammadiyah tulen, di forum-forum resmi HMI ketika membahas Sejarah Perjuangan HMI mengenai sosok Lafran Pane sangat terbatas dan cenderung menghindari membicarakan Lafran Pane dan keterkaitannya dengan Muhammadiyah. Mungkin karena persoalan menyangkut independensi dari HMI itu sendiri yang harus tetap di jaga.

Bahkan dalam tulisan-tulisannya sejarawan HMI sekelas Agus Salim Sitompul tidak tegas menyinggung soal pengaruh Muhammadiyah dalam pembentukan intelektual dan spiritual seorang Lafran Pane, sehingga minim informasi yang kita dapat. Namun pada prinsipnya sejarah yang baik adalah yang disampaikan dan dinarasikan, agar berdampak langsung untuk kepentingan kemanusiaan yang lebih besar.

Ada satu hal yg kembali harus kita pertanyakan, Mengapa di 75 tahun lalu tepatnya 5 Februari 1947 seorang Lafran Pane lebih memilih mendirikan organisasi mahasiswa Islam, bukan organisasi mahasiswa yang berhaluan nasionalis ataupun komunis padahal pada saat itu ideologi-ideologi tersebut sedang mendapat tempat terbaik di zamannya ??

Jawabannya tentu bukan satu hal yang normatif dan tidak sesederhana karena belum adanya representasi dari organisasi mahasiswa Islam itu sendiri. Tetapi, berangkat dari latar belakang pemikiran seorang Lafran Pane yang lebih dulu di bentuk oleh organisasi dan pendidikan Islam bernama Muhammadiyah, ya Lafran Pane seorang yang berdarah Muhammadiyah tulen.

Jika mengutip Bourdiue, kita mengenal istilah habitus untuk membaca tindakan individu selaku aktor. Tindakan selalu dipengaruhi oleh struktur sosial yang di internalisasikan melalui pendidikan ataupun interaksi sosial lainnya, jadi habitus adalah mekanisme pembentuk bagi praktik sosial yang beroperasi dalam dari individu sebagai aktor.

Lafran Pane lahir pada 5 Februari 1922 di Sipirok (Tananuli Selatan), Ia adalah Putra Sutan Panguraban Pane salah satu pendiri Muhammadiyah di Sipirok. Masa kecilnya ia habiskan belajar di pesantren Muhammadiyah Sipirok, kemudian melanjutkan sekolah ke HIS Muhammadiyah, Mulo Muhammadiyah lalu menamatkan pendidikannya juga di AMS Muhammadiyah (sekarang setingkat SD, SMP dan SMA Muhammadiyah).

Lafran Pane lahir dan besar dalam tradisi pendidikan Muhammadiyah yang kental, Ia juga hidup pada zaman dimana perang berlangsung. Menyaksikan bangsanya kehilangan kehormatan dan harga diri karna kolonialisme.

Dua hal ini sebenarnya adalah faktor penggerak yg mendasari tekad dari Lafran Pane untuk konsisten terhadap pikiran-pikirannya, yang kelak akan bermuara pada pendirian HMI.

Dalam pengembaraan intelektualnya dari Medan, Jakarta, hingga sampai ke Yogyakarta (menjadi mahasiswa STI tahun 1946) Lafran Pane mempedomani dan mengamalkan nilai dan ajaran yg ia dapat selama menempuh pendidikan di Muhammadiyah.

Hal ini juga yang membuat ia mengagumi sosok dan pemikiran Kyai Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) yang kemudian mempertemukannya dengan salah satu cucu Kyai Dahlan (Maisaroh Hilal) kelak akan ikut bersama-sama mendirikan HMI pada Rabu Pon 1878 / 14 Rabiulawal 1336 H atau 5 Februari 1947 M di Yogyakarta.
Tercatat setidaknya ada beberapa orang berdarah Muhammadiyah yang ikut mendirikan HMI (lihat: Lafran Pane, Maisaroh Hilal dan Bidron Hadi).

Mengenai komitmen Keislaman dan Keindonesian pada fase awal pendirian HMI, bahwa akar dari genealogi pemikiran tersebut sebenarnya dapat kita lacak dengan mudah dan akan sampai pada Muhammadiyah dan sosok Kyai Dahlan itu sendiri. Namun dalam proses dan perjalanannya HMI telah menetapkan blueprint tersendiri dalam rangka melaksanakan dan melanjutkan pengabdian untuk umat dan bangsa (baca: tafsir independensi HMI)

HMI pasca Lafran Pane dan hingga saat ini tetap konsisten berjuang untuk kepentingan umat dan bangsa. Jika dulu ikut memanggul senjata mempertahankan kemerdekaan, hari ini menawarkan solusi sekaligus memproduksi kader-kader yang siap di tempatkan di semua lini pengabdian umat dan bangsa. Ini adalah wujud ketersambungan dari sebuah komitmen sejarah yang sama sekali tidak terputus antara generasi pendahulu dan generasi hari ini di HMI.

Lafran Pane seorang yang besar namun memilih jalan hidup sederhana, menolak kemewahan, menjadi pengajar hingga akhir hayatnya bahkan ia tak sempat memiliki rumah (baca: Hariqo WS ‘Lafran Pane’). Perjuangan dan teladan yg dilakukan Lafran Pane ini jika kita telaah mirip yang dilakukan oleh Kyai Dahlan saat mendirikan dan membesarkan Muhammadiyah.

Di akhir hayatnya keluarga bahkan memilih memakamkan Lafran Pane di pemakaman yang sama dengan Kyai Ahmad Dahlan (Makam Islam Karang Kajen Yogyakarta) mendampingi Kyai Dahlan dan kyai-kyai Muhammadiyah lainnya, mungkin bisa diartikan sebagai salah satu bentuk kecintaan keluarga besar Lafran Pane terhadap Muhammadiyah dan sosok Kyai Dahlan itu sendiri.

Penulis: adalah Alumni HMI (Peneliti/Penggiat Studi Sejarah dan Budaya Universitas PGRI Silampari).

Please follow and like us:
fb-share-icon
Tweet 20
fb-share-icon20

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

RSS
Follow by Email
WhatsApp