Sholat Idul Adha di Pelataran Perguruan Muhammadiyah Kota Serang
Oleh: Endang Yusro (Kepala SMA Muhammadiyah Kota Serang)
Mentari pagi Rabu, 27 Mei 2026, tersenyum malu-malu dari balik selimut awan tipis saat ia menyapa langit Kota Serang. Sinarnya yang keemasan menari perlahan di atas halaman Perguruan Muhammadiyah Kota Serang, membelai sajadah-sajadah yang berbaris rapi.
Angin pagi berbisik khusyuk di antara pepohonan, seolah ikut melantunkan takbir bersama para jamaah. Daun-daun bertepuk tangan perlahan, memberi hormat pada suasana Iduladha 1446 H. yang begitu hidmat. Seakan alam bertasbih untuk mengingat Allah SWT.: “Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan,” (QS. Al-Baqarah: 203). Ibnu Abbas menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah hari-hari tasyriq, saat takbir menggema.
Pelaksanaan salat Iduladha 1446 H. yang bertepatan dengan hari Rabu (27/5/2026) di lingkungan Perguruan Muhammadiya Kota Serang berlangsung begitu hidmat. Ketua Panitia Ferry Purnawirawan, M.Si. melaporkan kegiatan salat Ied yang dilanjutkan dengan prosesi pemotongan daging kurban.
Pada pelaksanaan salat Iduladha bertindak sebagai imam Ustadz Khawasi, S.Ag., M.Pd. dan khatib Ustadz Manar MAS, begitu kata Ferry melanjutkan laporannya. Kemudian untuk kegiatan kurban, Ferry menyampaikan jumlah hewan kurban, yaitu terdiri dari 4 sapi dan 7 kambing.
Daging kambing rencananya akan dibagikan kepada guru-guru dan karyawan yang mengabdi di perguruan Muhammadiyah Kota Serang dari tingkat kelompok belajar (Kober) hingga sekolah menengah atas dan madrasah aliyah, di samping juga para fakir miskin dan dhuafa di sekitar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Serang.
Inilah adab kurban yang diajarkan Rasulullah saw.: “Makanlah oleh kalian, berikan untuk makan orang lain, dan simpanlah,” (HR. Muslim). Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan, sunnahnya dibagi tiga: sepertiga dimakan shahibul kurban, sepertiga disedekahkan, sepertiga dihadiahkan.
Sementara Khotib, Ustadz Manar MAS menyampaikan tentang intisari Iduladha yaitu sebagai wujud ketaatan, keikhlasan, dan penyerahan diri mutlak kepada Allah SWT melalui pengorbanan. Lebih jauh khatib menyampaikan bahwa peringatan ini merujuk pada sejarah Nabi Ibrahim AS. yang bersedia menyembelih putranya, Nabi Ismail AS, sebagai bukti kepatuhan. Allah abadikan momen kepasrahan itu: “Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia membaringkan anaknya atas pelipisnya, Kami panggil dia: Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu,” (QS. As-Saffat: 103-105).
Lalu Allah ganti dengan sembelihan yang besar: “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.l,” (QS. As-Saffat: 107). Dari sinilah Imam Syafi’i berpendapat bahwa hukum berkurban adalah sunnah muakkadah bagi yang mampu, tidak sampai wajib, agar umat tetap bisa meneladani Ibrahim tanpa memberatkan.
Selain yang disampaikan Ustadz Manar MAS di atas, intisari dari Ibadah Kurban adalah sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian sosial. Ibadah penyembelihan hewan kurban dilanjutkan dengan pembagian daging kepada sesama, terutama bagi yang membutuhkan, hal ini mengajarkan penghapusan kesenjangan dan indahnya berbagi. Karena Allah menegaskan: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37).
Imam Ibnu Katsir menafsirkan, ayat ini turun untuk meluruskan tradisi jahiliyah yang melumuri ka’bah dengan darah. Allah tidak butuh daging, yang Dia lihat adalah ketakwaan dan kepedulian kita pada sesama.
Maka gema takbir yang membelah langit Muhammadiyah pagi itu bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah seruan untuk menghidupkan ruh pengorbanan Nabi Ibrahim AS. di setiap ruang kehidupan kita. Kurban mengajari bahwa ketaatan diuji bukan saat mudah, melainkan saat harus melepas yang paling dicinta, lalu Allah ganti dengan kebaikan yang lebih besar. Ia juga menegur kita bahwa takwa tidak berhenti di sajadah, tetapi mengalir lewat daging yang dibagi, lewat tangan yang peduli, lewat jarak sosial yang kita pangkas dengan ikhlas. Sebagaimana sabda Nabi saw.: “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Semoga dari pelataran Perguruan Muhammadiyah Kota Serang ini, nilai Iduladha terus tumbuh: melahirkan generasi yang tunduk kepada Allah, tangguh dalam berkorban, dan lembut dalam berbagi. Sebab yang sampai kepada Allah bukan darah dan dagingnya, melainkan ketakwaan kita (QS. Al-Hajj: 37).



















Tinggalkan Balasan