Prof. Dr. Laode M Kamaluddin : Di Era Disruptif, Perguruan Tinggi Harus Inklusif, Inovatif dan Berbasis Digital.

Prof. Dr. Laode M Kamaluddin : Di Era Disruptif, Perguruan Tinggi Harus Inklusif, Inovatif dan Berbasis Digital.

amalinsani.org. Kali kedua Amal Insani Foundation sukses menyelenggarakan Seminar Nasional yang dirangkai dengan Call for Paper. Kali ini Tema yang diangkat tentang “Strategi Membangun Inovasi dan Keunggulan Bersaing Perguruan Tinggi di Era Disruptif” dilakukan secara Daring, Rabu (06/07/2023)

Seminar Nasional menghadirkan Keynote Speaker Prof. Dr. Ir. H. La Ode M Kamaluddin selaku Rektor Universitas Insan Cita Indonesia. Selain Keynote Speaker, terdapat Narasumber lain didaulat mengisi materi Seminar diantaranya, Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, M,Si (Rektor UNINUS Bandung), Dr. Ir. H. Isradi Zainal, MT., MM., MH., DESS, MKKK., IPU (Rektor Universitas Balikpapan) dan Dr. Ir. H. John Chaidir, MM., M.AP., M.Ikom., M.Pd (Direktur Pasca Sarjana Universitas Primagraha)

Dalam sambutan pembukaannya, Achmad Rozi El Eroy selaku Founder sekaligus CEO Amal Insani Foundation menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan ruang diskursus bagi para pengelola perguruan tinggi dalam membangun inovasi dan daya saing perguruan tinggi di era disruptif.

“Inovasi dan Keunggulan Bersaing sebuah perguruan tinggi saat ini menjadi isu dan kebutuhan bersama bagi pengelola perguruan tinggi. Hampir bisa dipastikan, semua perguruan tinggi memiliki keinginan untuk menjadikan kampusnya menjadi perguruan tinggi yang inovatif dan kompetitif.” Ujar Achmad Rozi El Eroy.

Rozi menambahkan, “Salah satu prasyarat bagi sebuah perguruan tinggi untuk bisa survive dan berkembang adalah memiliki keunggulan bersaing. Dimana basis dari keunggulan bersaing ini adalah bagaimana menciptakan inovasi dan kreatifitas yang tidak mampu disaingi oleh perguruan tinggi lainnya.”

Sementara Rektor Universitas Insan Cita Indonesia, Prof. Dr. H. Laode M Kamaluddin dalam sambutannya menyatakan bahwa, perguruan tinggi yang ingin unggul di era Disruptif harus mampu menyelenggarakan pendidikan yang bersifat inklusif yang berbasis digital, inovatif, berkualitas, dan sesuai dengan kebutuhan pemangku kepentingan (stakeholders).

“Perguruan Tinggi harus mampu juga menyelenggarakan penelitian tentang isu – isu krusial terkait kemanusiaan, kebangsaan dan keumatan, dan memperoleh solusinya sebagai kontribusi dalam pembangunan bangsa dan negara.” pungkas Prof Laode

Dr. ir. H. John Chaidir saat menyampaikan materi Seminar Nasional (sumber foto: tangkapan layar)

Membangun Keunggulan Inovasi Mahasiswa

Dalam kesempatan pemaparan materi, Direktur Pascasarjana Universitas Primagraha (UPG) Dr. Ir. H. John Chaidir, MM., M.AP., M.Ikom., M.Pd mengatakan bahwa pada masa kini, perguruan tinggi harus menyediakan lingkungan yang memungkinkan peserta didik untuk meningkatkan kemampuan kritis mereka di berbagai bidang.

“Ada 5 (lima) cara di mana perguruan tinggi dapat meningkatkan kemampuan sosial dan berpikir kritis peserta didik.  Pertama, melalui Pendidikan Aklademik, kedua, Pendidikan Keterampilan professional, ketiga, Pengembangan kepemimpinan dan kepribadian, keempat, Melalui Pengalaman Internasional dan kelima, Inovasi melalui Penelitian (Research).”

Dr. John Chaidir menambahkan, “Perguruan tinggi menawarkan program studi yang mendalam dalam berbagai disiplin ilmu. Mahasiswa dapat mengembangkan pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik dalam bidang yang mereka minati. Mereka juga dapat meningkatkan kemampuan analitis, kritis, dan berpikir kreatif melalui tugas, proyek, penelitian, dan diskusi di kelas.”

Peserta Seminar Nasional dan Call for Paper Batch 2 (sumber foto: tangkapan layar)

Selain itu, Dr. John Chaidir mengatakan, Perguruan tinggi seringkali menjadi pusat penelitian dan inovasi. Mahasiswa dapat terlibat dalam proyek penelitian, laboratorium, atau tim penelitian dengan fakultas. Ini memungkinkan mereka untuk mengasah kemampuan penelitian, metode ilmiah, dan pemecahan masalah.

Baca Juga : 5 Strategi Membangun Inovasi Mahasiswa Yang Berdaya Saing Global

“Banyak perguruan tinggi menawarkan program pertukaran pelajar atau studi di luar negeri. Melalui pengalaman ini, mahasiswa dapat meningkatkan pemahaman lintas budaya, bahasa asing, dan keterampilan interkultural. Hal ini juga membuka peluang untuk memperluas jaringan internasional” pungkas Dr. John Chaidir.

Pada bagian akhir materi, John Chaidir mengingatkan kepada peserta bahwa, penting bagi mahasiswa untuk mengambil inisiatif dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia di perguruan tinggi, seperti bimbingan karir, pusat pengembangan keterampilan, dan kesempatan untuk berkolaborasi dengan fakultas dan teman sebaya.

“Perguruan tinggi dapat menjadi wadah yang menginspirasi dan memberikan landasan yang kokoh bagi pengembangan kemampuan mahasiswa seperti kemampuan bisnis melalui perkuliahan pelbagai  modul kuliah manejemen dan kewirausahaan.” ungkapnya (red)

Please follow and like us:
fb-share-icon
Tweet 20
fb-share-icon20

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *