Ketika Negara dan Rakyat Terlilit Riba

RIBA memang bukan satu satunya faktor penyebab jika berbicara tentang penderitaan rakyat dalam bidang ekonomi, namun melewatkannya juga tidak mungkin, karena itu bagian integral dan penting dalam bahasan pengurusan ekonomi sebuah negara. Allah swt berfirman;

يَمْحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰا۟ وَيُرْبِى ٱلصَّدَقَٰتِ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (QS al Baqarah 176)

فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا۟ فَأْذَنُوا۟ بِحَرْبٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ۖ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَٰلِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (QS al Baqarah ayat 279)

Jamaknya kita sudah tidak asing dengan istilah riba. Riba atau bunga lebih banyak terjadi dalam pinjam meminjam uang walaupun terkadang samar dalam bentuk jual beli barang tertentu seperti kendaraan maupun rumah. Pastinya riba atau bunga itu diberikan dalam kegiatan peminjaman uang pada bank negeri atau bank swasta (legal) maupun lembaga atau perorangan (illegal) semacam “bank emok” yang sekarang menggejala di masyarakat.

Saking sudah terbiasa, hampir tidak terasa keberadaannya, padahal ia hadir secara masiv mengotori setiap sisi perekonomian kita. Rasulullah SAW bersabda;

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يَبْقَى أَحَدٌ إِلاَّ أَكَلَ الرِّبَا فَإِنْ لَمْ يَأْكُلْهُ أَصَابَهُ مِنْ بُخَارِهِ. قَالَ ابْنُ عِيسَى: أَصَابَهُ مِنْ غُبَارِهِ

“Sungguh akan datang satu zaman di tengah umat manusia, tidak ada satupun orang kecuali dia akan makan riba. Jika dia memakannya, dia akan terkena asapnya.

Hadits di atas bukan alasan untuk menjadi boleh dan kita tenggelam di dalamnya, akan tetapi menceritakan realitas yang akan terjadi di masa yang akan datang, tepatnya sekarang ini untuk berhati hati dan menghindari sekuat tenaga. Padahal Rasulullah SAW telah bersabda;

إن الدرهم يصيبه الرجل من الربا أعظم عند اللهفي الخطيئة من ست وثلاثين زنية يزيها الرجل

“Sesungguhnya satu dirham yang didapatkan seorang Iaki-laki dari hasil riba Iebih besar dosanya di sisi Allah daripada berzina 36 kali.” (HR Ibnu Abi Dunya).

الرِّبَا سَبْعُونَ حُوبًا أَيْسَرُهَا أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ

“Riba itu ada 70 dosa. Yang paling ringan, seperti seorang anak berzina dengan ibunya. (HR. Ibnu Majah)

مَا مِنْ قَوْمٍ يَظْهَرُ فِيهِمْ الرِّبَا إِلَّا أُخِذُوا بِالسَّنَةِ وَمَا مِنْ قَوْمٍ يَظْهَرُ فِيهِمْ الرُّشَا إِلَّا أُخِذُوا بِالرُّعْبِ

“Tidaklah riba merajalela pada suatu kaum kecuali akan ditimpa paceklik. Dan tidaklah budaya suap merajalela pada suatu kaum kecuali akan ditimpakan kepada mereka ketakutan.” (HR.Ahmad)

Secara etimologi riba bermakna az–ziyādah (tambahan) dan al-Faḍl (kelebihan) (Ahmad Warson Munawwir, 1997). Sedangkan secara terminologi riba memiliki dua pengertian; pengertian yang bersifat khusus dan umum. Adapun pengertian secara khusus riba adalah tambahan yang disyaratkan sebagai kompensasi dari pembayaran qarḍ (utang) yang melebihi batas waktunya, yaitu setiap kali adanya penangguhan atau keterlambatan dalam pembayaran, maka akan dikenakan biaya tambahan.

Adapun pengertian secara umum riba adalah segala bentuk tambahan yang terjadi dalam transaksi utang-piutang dan jual-beli, yakni jual-beli yang bersifat fāsid dan dilarang oleh syara’. Ini sebagaimana yang disebutkan oleh as-Sarkhasi, Ibnu Hajar al-Asqalani, Ibnu Rusyd, dan selainnya (Nazih Hammad, 2008). Menurut as-Sayyid Sābiq riba adalah tambahan atas harta yang pokok (As-Sayyid Sabiq, 2004)

Tidak ketinggalan, sudahlah praktik ekonomi ribawi ini berkembang di masyarakat, negara-pun terlilit hutang riba yabg sangat besar, padahal hutang luar negeri tersebut banyak untuk membiayai proyek proyek yang sebenarnya tidak terlampau penting dan dibutuhkan oleh masyarakat.

Pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2023, anggaran untuk pembayaran bunga utang menembus Rp 441, 4 triliun, naik 35,5% dibandingkan yang tertuang dalam Perpres 98/2022.

Anggaran untuk pembayaran bunga utang bahkan setara dengan 14,5% dari total belanja negara 2023. Anggaran tersebut sudah melonjak 60% dibandingkan pada 2019 atau sebelum pandemi Covid-19.

Belanja pembayaran bunga utang juga tiga kali lipat lebih besar dibandingkan anggaran untuk bantuan sosial yang tercatat Rp 148.565,2.

Penyebab utama nestapa ini karena negara ini menganut sistem ekonomi kapitalis, menghalalkan berbagai macam cara dalam ber-ekonomi, pilar ekonomi negara ditopang oleh ekonomi ribawi.

Pangkal dari semua itu adalah penyimpangan terhadap aturan Allah SWT dalam bentuk kemaksiatan sistemik melalui penerapan sistem dan ideologi sekular kapitalis. Padahal Allah SWT telah jauh-jauh hari memperingatkan kita semua:

﴿ وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى ﴾

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya bagi dia kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkan dirinya pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan buta (TQS Thaha [20]: 124).

Menurut Imam Ibnu Katsir, “berpaling dari peringatan-Ku” bermakna: menyalahi perintah-Ku dan apa yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku (al-Quran), melupakannya dan mengambil petunjuk dari selainnya (Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, V/323).

Wallahu a’lam bishawab

Penulis: H.M. Ali Moeslim

Please follow and like us:
fb-share-icon
Tweet 20
fb-share-icon20