cropped-kop_surat_Amal_Insani_Foundation_PNG3-removebg-preview.png
Previous
Next

MENIKAH adalah syari’at Islam yang di perintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, di dalam Al Qur’an terdapat banyak ayat yang menyinggung tentang bab nikah, begitu juga dalam hadits-hadits yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. Misalnya kalau kita membuka dan membaca Al Qur’an, terdapat sebuah perintah Allah kepada kita untuk melaksanakan syariat nikah.

Firman Allah mengabarkan, “Dan nikahilah wanita-wanita (lain) yang kalian senangi….(QS An-Nisaa [4]: 3) dalam firman-Nya yang lain, “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kalian, dan orang-orang yang layak (nikah).…” (QS An-Nur [24]: 32).

Bagi orang-orang sekuler, Rasulullah Saw selalu dijadikan bahan gunjingan karena menikah dengan banyak perempuan. Padahal kalau kita baca sejarah, orang-orang penting yang sejaman dengan Rasulullah Saw, yaitu raja-raja Romawi, Persia dan para pembesar-pembesar Quraisy lainnya mereka memiliki banyak “istri” yang jumlahnya bisa berjumlah ratusan. Tetapi mereka tidak pernah dijadikan bahan perdebatan dikalangan orang-orang sekuler. Suatu kondisi yang sangat tidak adil, ketika persoalan menikah selalu memojokkan Rasulullah Saw, sementara wanita-wanita yang dinikahi oleh Rasulullah Saw adalah mereka yang sudah berusia lanjut, kecuali Siti Aisyah r.a.

Menikahnya Rasulullah Saw dengan banyak wanita bukanlah keinginan sendiri, tetapi karena lebih banyak fakor “wahyu” dari Allah, dan semuanya itu dilakukan dalam rangka mengembangkan dan memperkuat syiar agama Islam dikalangan masyarakat Arab pada waktu itu.

Menikah adalah syariat Allah yang diperintahkan kepada manusia, agar dengan menikah manusia dapat melestarikan perkembang biakan keturunannya dengan cara-cara yang halal.  Dengan menikah kebutuhan biologis pasangan suami isteri terhadap pasangannya terjaga dari melakukan hubungan seks yang kotor dan tidak halal.

Menikah adalah jalan untuk mengatur hubungan seorang laki-laki dengan seorang perempuan berdasarkan prinsip pertukaran hak dan kerjasama yang produktif dalam suasana penuh cinta kasih serta perasaan saling menghormati satu sama lainnya. Menikah adalah bentuk dari halalnya hubungan antara laki-laki dan perempuan yang sudah mencapai syarat-syarat yang telah ditentukan.

Keindahan hidup di dunia ini dapat kita rasakan dengan indah dan membahagiakan, jika kita memiliki pasangan hidup yang syah (menikah). Menikah adalah pintu gerbang untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia. Sebagaimana Rasulullah Saw pernah mengatakan dalam sabdanya, “Hai para pemuda, barangsiapa dari kalian mampu memberi nafkah, maka nikahlah, karena nikah ini dapat menundukkan pandangan serta memelihara kemaluan.”[1] Dan dalam sabdanya yang lain disebutkan, “Nikahilah wanita-wanita yang banyak cintanya lagi subur, karena aku akanmembanggakan kalian disebabkan jumlah yang banyak atas umat (terdahulu) pada Hari Kiamat.”[2]

Menikah memiliki banyak keutamaan, sebagaimana Allah berfirman, “Dan diantara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, Dan Dia menjadikan diantaramu kasih dan sayang…” (QS Ar Rum [30]: 21)

Dari firman Allah atas, jelaslah bahwa menikah akan memberikan rasa kasih sayang dan ketentraman di dalam hati masing-masing pasangan (suami/isteri). Disamping itu, menikah juga akan menumbuhkan rasa tenang dan nyaman di hati, dengan menikah kita akan terhindar dari perbuatan yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi (hal 932) mengatakan bahwa dengan menikah seorang Muslim akan mendapatkan jalan untuk sempurnanya agama, dimana dengan menikah ia termasuk telah turut serta dalam;

  1. Melestarikan manusia dengan perkembangbiakan yang dihasilkan melalui nikah (halal);
  2. Kebutuhan pasangan suami-isteri terhadap pasangannya untuk memelihara kemaluannya dengan melakukan hubungan seks yang suci;
  3. Kerjasama pasangan suamiisteri dalam mendidik anak dan menjaga kehidupannya; dan
  4. Mengatur hubungan seorang laki-laki dengan seorang perempuan berdasarkan prinsip pertukaran hak dan bekerja sama yang produktif dalam suasan yang penuh dengan cinta kasih serta perasaan saling menghormati satu sama lainnya. 

Muchtar Adam dan Anna Rosiana dalam buku Membina Generasi Qur’ani (hal 23) menyebutkan bahwa menikah memiliki fungsi;

  1. Membantu memelihara kemaluan, menahan pandangan serta menjaga agama dan akhlak;
  2. Akan mendapatkan pahala dan balasan yang besar dari allah, karena telah memenuhi perintah-nya;
  3. Terwujudnya jalinan kasih sayang dan kesehatan antara suami isteri yang dapat menepis kesedihan dan mengatasi penyakit jiwa dan fisik yang di sebabkan oleh kesendirian, terasing dan hidup membujang;
  4. Dengan menikah mewujudkan keturunan yang sholeh, membantu untuk urusan hidup di dunia dan di akhirat.
  5. Menikah juga akan memperjelas kedudukan seorang muslim dalam lingkungan sosialnya di masyarakat.

Selintas memang kita bisa merasakan bahwa hidup membujang merupakan sebuah ketenangan. Tetapi kalau kita renungkan dan kita kaji lebih dalam lagi ternyata hidup membujang akan lebih banyak mendorong kita terjebak dalam perbuatan yang sia sia, bahkan jika iman tidak kuat, kita bisa terjerumus dalam berbagai perbuatan keji yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya.

 Kalau ada yang mengatakan bahwa hidup membujang adalah sesuatu yang mengenakkan, bisa jadi hal tersebut hanya bersifat temporer semata, karena sejatinya dengan hidup menikah itu lebih mengenakkan dan membuat hati menjadi tenang dan tentram. Secara manusiawi, hidup membujang merupakan pilihan yang sangat tidak rasional dan lebih cenderung memperturutkan egoisme pribadi yang tidak berdasar. Bukankah Allah sudah menyediakan pasangan untuk dinikahi? bukankah kehidupan ini berjalan dengan saling berpasangan? Mampukah kita menjalani kehidupan ini dengan sendiri? Bisakah kita melayani hidup kita sendiri-sendiri tanpa bantuan orang lain? tanpa suami atau istri? Sungguh suatu pilihan yang sangat beresiko jika kita memilih untuk tetap hidup dalam kesendirian (membujang).

Ingatlah apa yang telah di sabdakan Rasulullah Saw diatas, bahwa dengan menikah kita dapat menundukkan pandangan serta memelihara kemaluan.”[3]

Tidak sedikit di masyarakat kita menemukan bahwa hidup membujang dipilih karena keterbatasan dalam hal kemampuan menafkahi. Orang tidak memiliki pekerjan atau usaha yang mapan, tidak yakin bahwa hidupnya setelah menikah akan menjadi lebih baik dan berkembang. Jika itu yang selalu menjadi alasan, bukankah Allah sudah menjamin tiap-tiap hambanya rezeki? bukankah bumi Allah ini luas? Bukankah begitu banyak karunia Allah baik yang ada di darat maupun di lautan? Bukankah Allah telah membekali kita dengan akal? Hanya orang-orang yang tidak mengimani Allah saja yang masih memiliki pikiran-pikiran seperti itu.

Sungguh jika kita termasuk orang yang seperti itu, maka kita termasuk orang yang disebut Allah sebagai orang yang melampuai batas. Ingatlah firman-Nya, Kepunyaan Allah lah perbendaharaan langit dan bumi.”(QS Al Munafiqun [63]: 7) Dalam ayat-Nya yang lain Allah berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah….”(QS Az Zumar [39]: 53)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda, “Tiga orang yang akan selalu diberi pertolongan oleh Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah, seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya.”[4]

Menikah adalah jalan untuk menjaga kehormatan seorang Muslim agar tidak terjerambab dalam perbuatan zina yang dimurkai Allah. Menikah akan melindungi seorang Muslim dari perbuatan melampaui batas dan memenuhi hak yang sudah diberikan Allah kepadanya.

Rasulullah Saw bersabda, “Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah:  Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah, Budak yang menebus dirinya dari tuannyadan Pemuda/ i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram”[5]

Hujjatul Islam Imam Al Ghazali dalam buku Ihya Ulumuddin mengatakan, “Hadits diatas memberikan isyarat akan keutamaan menikah dikarenakan dapat melindunginya dari penyimpangan demi membentengi diri dari kerusakan. Dan seakan-akan bahwa yang membuat rusak agama seseorang pada umumnya adalah kemaluan dan perutnya maka salah satunya dicukupkan dengan cara menikah.”

Menikah memiliki keutamaan-keutamaan yang sangat besar, diantara keutamaannya adalah;

  1. Membuka pintu Rezeki

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw bersabda, “Allah enggan untuk tidak memberi rezeki kepada hamba-Nya yang beriman, melainkan pasti diberinya dengan cara yang tak terhingga.”[6]

Dari Jabir ra., ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Ada tiga hal bila orang melakukannya dengan penuh keyakinan kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya, Allah mewajibkan diri-Nya untuk membantunya dan memberinya berkah. Orang yang berusaha memerdekakan budak karena imannya kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya, maka Allah mewajibkan diri-Nya membantunya dan memberinya berkah. Orang yang menikah karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya, maka Allah mewajibkan diri-Nya membantunya dan memberinya berkah …..” [7]

Dalam hadist yang lain disebutkan,‘Tiga golongan yang berhak mendapatkan pertolongan dari Allah, yaitu: seorang budak yang berjanji menebus dirinya dari majikannya dengan penuh iman kepada Allah maka Allah  mewajibkan diri-Nya untuk membelanya dan membantunya; seorang lelaki yang menikah guna menjauhkan diri dari hal-hal yang diharamkan Allah (zina), maka Allah mewajibkan diri-Nya untuk membantunya dan memberinya rezeki ….”[8] dan “Carilah oleh kalian rezeki dalam pernikahan (dalam kehidupan berkeluarga).[9]

  • Pahala orang menikah itu lebih banyak dibanding yang belum menikah dalam perkara beramal.

Rasulullah Saw bersabda, “Dua rakaat yang dilakukan orang yang sudah berkeluarga lebih baik dari tujuh puluh rakaat shalat sunah yang dilakukan orang yang belum menikah.”[10]

  • Berguguran dosa ketika merengkuh tangan pasangannya

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan istrinya memperhatikan suaminya,” kata Nabi Saw menjelaskan, “Maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan perhatian penuh Rahmat. Manakala suaminya merengkuh telapak tangannya (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela-sela jari jemarinya.[11]

  • Menggenapkan separuh agama Islam

Rasulullah Saw bersabda, “Apabila seorang hamba telah berkeluarga, berarti dia telah menyempurnakan setengah dari agamanya maka takutlah kepada Allah terhadap setengahnya yang lainnya.” [12]

  • Akan selalu mendapatkan pertolongan dari Allah.

Dalam hadis lain Rasulullah Saw bersabda,“Tiga golongan orang yang pasti mendapat pertolongan Allah, yaitu budakn mukatab yang bermaksud untuk melunasi perjanjiannya, orang yang menikah dengan maksud memelihara kehormatannya, dan orang yang berjihad di jalan Allah.”[13]

Yazid Abdul Qadir Al Jawas dalam buku nya Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah (2006) mengatakan Orang yang mempunyai akal dan bashirah tidak akan mau menjerumuskan dirinya ke jalan kesesatan dengan hidup membujang. Sesungguhnya, hidup membujang adalah suatu kehidupan yang kering dan gersang, hidup yang tidak memiliki makna dan tujuan. Suatu kehidupan yang hampa dari berbagai keutamaan insani yang pada umumnya ditegakkan atas dasar egoisme dan mementingkan diri sendiri serta ingin terlepas dari semua tanggung jawab.

Jadi orang yang enggan menikah, baik itu laki-laki atau wanita, mereka sebenarnya tergolong orang yang paling sengsara dalam hidup ini. Mereka adalah orang yang paling tidak menikmati kebahagiaan hidup, baik kesenangan bersifat biologis maupun spiritual. Bisa jadi mereka bergelimang dengan harta, namun mereka miskin dari karunia Allah. Ketahuilah Islam sangat menolak sistem ke-rahiban (kependetaan) karena sistem tersebut bertentangan dengan fitrah manusia. Bahkan, sikap itu berarti melawan Sunnah dan kodrat Allah yang telah ditetapkan bagi makhluk-Nya. Sikap enggan membina rumah tangga karena takut miskin adalah sikap orang yang jahil (bodoh). Karena, seluruh rizki telah diatur oleh Allah sejak manusia berada di alam rahim.

Rasulullah Saw bersabda, “Tiga orang yang akan selalu diberi pertolongan oleh Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah, seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya.”[14] [***]

Penulis: Achmad Rozi El Eroy


[1] HR. Bukhari dan Muslim

[2] HR. Ahmad

[3] HR. Bukhari dan Muslim

[4] Hr. At Thabrani

[5] HR. At Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al Hakim

[6] HR. Akl BAihaqi

[7] HR. At Thabrani

[8] HR. Ad Dailami

[9] HR. Ad Dailami

[10] HR. Ibnu Adiy

[11] HR Maisarah bin Ali

[12] HR. At Thbarani

[13] HR. At Timidzi, Ad Daruqutni, Al Hakim dan Na-nasa’i

[14] HR. At Thabrani

Please follow and like us:
fb-share-icon
Tweet 20
fb-share-icon20

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

RSS
Follow by Email
WhatsApp