Keajaiban Sedekah Kalung Bersejarah

Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Founder SD Al Qur’an Amirul Mukminin

Fatimah Az-zahra, buah cinta Rasulullah Muhammad Saw dengan Siti Khadijah memiliki kalung bersejarah. Kalung itu maskawin yang berikan oleh Ali bin Abi Thalib di hari pernikahan mereka. Di kemudian hari, terdapat kisah menarik antara Fatimah Az-Zahra dengan kalung istimewa tersebut.

Suatu hari, ada seorang musafir yang menemui Rasulullah Saw di masjid. Musafir itu kemudian meminta bantuan Rasulullah karena seluruh perbekalannya telah habis. Bahkan si musafir juga menjelaskan bahwa pakaian yang dimilikinya hanya yang menempel di badannya saja.

Rasulullah Saw kemudian meminta maaf kepada si musafir karena saat itu beliau tidak memiliki makanan atau benda lain yang bisa diberikan kepada si musafir. Lantas Rasulullah menyuruh si musafir untuk menemui dan meminta bantuan kepada putrinya, Fatimah Az-Zahra. Si musafir pun bergegas menemui Fatimah dan menjelaskan maksud kedatangannya.

Fatimah Az-Zahra yang memiliki kelembutan hati lantas berpikir bagaimana cara agar bisa membantu musafir tersebut meski saat itu Fatimah juga tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepada musafir. Akhirnya, Fatimah teringat bahwa dirinya masih memiliki kalung pemberian Ali bin Abi Thalib, hadiah spesial pernikahannya. Kalung bersejarah itu pun diberikan kepada si musafir agar dijual dan hasilnya bisa digunakan untuk membeli keperluan perjalanannya.

Setelah menerima kalung dari Fatimah, si musafir kemudian kembali kepada Rasulullah dan menceritakan kejadian yang baru dialaminya. Mendengar cerita si musafir, sahabat Nabi bernama Ammar bin Yasir lantas membeli kalung Fatimah itu. Sahabat Ammar membelinya dengan harga fantastis yakni 20 dinar ditambah sebuah pakaian dan seekor unta.

Setelah kalung itu di tangan Ammar, ia pun segera mengutus budaknya untuk memberikan kalung tersebut kepada pemiliknya, Fatimah Az-Zahra. Ammar berkata kepada budaknya: “Pergilah engkau menghadap Rasulullah dan katakan aku menghadiahkan kalung ini dan juga engkau kepadanya. Jadi, mulai hari ini kamu bukan budakku lagi tetapi budak Rasulullah.”

Budak Ammar itu pun memenuhi amanah yang diberikan majikannya dan menyerahkan kalung bersejarah tersebut.

Mengetahui itu, Fatimah kemudian menerima kalungnya kembali sekaligus memerdekakan budak tersebut hingga membuat si budak tertawa. Budak itu berkata: “Aku tertawa karena kagum dan takjub akan berkah kalung tersebut. Kalung tersebut telah mengenyangkan orang yang lapar, menutup tubuh orang yang telanjang, memenuhi hajat seorang yang fakir dan akhirnya telah membebaskan seorang budak.”

Begitulah kisah ketulusan hati Fatimah Az-Zahra dan keberkahan kalung pernikahannya. Apa yang disedekahkan tidak pernah hilang. Ketulusan hati telah menciptakan mata rantai keberkahan dan kemakmuran universal. Semoga menjadi inspirasi jelang Iedul Fitri tahun ini.

Please follow and like us:
fb-share-icon
Tweet 20
fb-share-icon20

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *