Oleh : Ratu Nizma Salamah Oman

Kesulthanan Banten pernah diperintah oleh seorang Ratu. Saat itu putera mahkota masih bayi ketika ditinggal mendiang raja. Sultan Shafiuddin kemudian menerima tahta atau dinobatkan menjadi Sultan berdasarkan keturunan garis lurus dalam usia yang masih muda. Dalam menjalankan roda pemerintahan kesulthanan dibantu oleh Ibunda Sultan bernama Ratu Asiyah.

Memiliki Istana Sendiri

Sebagai simbolik bahwa kesulthanan Banten masih exist (saat itu Benteng Surosowan sudah hancur), maka dibangunlah Istana Kaibon (kata kaibon berasal dari Ke-ibuan = istana yang digagas oleh seorang Ratu dan ibunda dari Sultan Shafiuddin).

Keraton Kaibon terletak 500 meter sebelah tenggara Keraton Surosowan, yang menjadi pusat pemerintahan. Ratu Asiyah tidak tinggal di istana utama kesultanan Banten dikarenakan Sulthan Banten (ayah Shafiuddin) wafat saat Shafiuddin masih berusia 5 bulan.Jadi, Keraton Kaibon sengaja dibangun untuk Ratu Asiyah pada tahun 1815 untuk menghormati ibunda Shafiuddin, Ratu Asiyah yang saat itu menjadi wali Sulthan meskipun ada wali dari laki-laki. Keraton Kaibon terletak disisi jalur Jalan Serang-Banten Lama di selatan Keraton Kaibon mengalir Sungai Cibanten.

Keraton Kaibon memiliki ruang utama yang menjadi kamar tidur Ratu Asiyah. Hebatnya, kamar ini dilengkapi dengan teknologi pendingin ruangan. Indikasinya terdapat lubang-lubang di dalam ruangan. Lubang-lubang ini dapat diisi air untuk memberikan efek sejuk pada seisi ruangan. Kamar tidur Sultan sendiri ada disebelah timur dekat sisi jalan raya.Keraton Kaibon dibangun menghadap barat. Di bagian depan terdapat kanal yang menjadi sarana transportasi menuju Keraton Surosowan.

Menjadi Ratu Berdaulat di Banten

Ratu Asiyah tentunya adalah seorang wanita yang cerdas dan kuat sehingga beliau bisa menjadi Ratu yang berdaulat dan menjalankan roda pemerintahan Kesultanan Banten.

Satu-satunya Sultan Banten yang pernah dibantu oleh Ibu kandungnya saat memerintah, adalah Sultan Shafiuddin. Oleh karena itu, keturunan putra mahkota berikutnya diberi gelar Ratu Bagus. Sedangkan keturunan yang bukan garis lurus mempersingkat gelar dari Ratu Bagus menjadi Tubagus.

Melawan Kolonialisme

Kesultanan Banten sejak jaman Sultan Ageng Tirtayasa selalu berjuang melawan Kolonialisme yang datang ke Banten. Saat itu Belanda dan anteknya masih bercokol di tanah Sulthan. Mereka melakukan segala cara yang licik dan kejam guna memperlemah kesulthanan mencoba mengambil alih. Namun para Sultan yang juga keturunan para wali dan darah Nabi Muhamammad SAW. Tidak pernah pantang menyerah dalam melawan Penjajah. Lebih baik melawan atau mati daripada hidup menjadi budak dan boneka penjajah. Hidup mulia atau mati syahid.

Pada akhirnya, Tahun 1832 Keraton Kaibon dihancurkan oleh pihak Belanda. Penyerangan dilakukan karena Sultan Shafiuddin menolak permintaan Belanda untuk meneruskan pembangunan Jalan Raya Anyer-Panarukan. Saat ini, puing reruntuhan Keraton Kaibon menjadi saksi tentang kejayaan Kerajaan Banten Lama.Walaupun hanya berupa reruntuhan dan pondasi-pondasi bangunan, tidak membuat pengunjung berhenti mengunjungi cagar budaya di Provinsi Banten ini.

Makam Ratu Asiyah ada di samping masjid Kasunyatan Kasemen Serang. Namun saat beliau memerintah Kesulthanan Banten masih berjaya walaupun tidak sejaya pada masanya. Meski kini keratonnya telah hancur tetapi kenangan sang Ratu berdaulat pertama dan terakhir di Banten itu masih melekat dan terukir dalam puing-puing istana Kaibon. Beliau juga telah berhasil mendidik putranya Sulthan Shafiuddin, Sulthan berdaulat terakhir Banten sebagai Sulthan yang bermartabat dan berjuang melawan Kolonialisme sampai akhir hayatnya.

Please follow and like us:
Tweet 20
fb-share-icon20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *