Minggu 9 Januari 2021 Prof. Dr. Ir. Beddu Amang telah meninggalkan kita untuk selama- lamanya. Apa yang dapat dikenang dari perjalanan hidup almarhum? Tokoh yang lahir di Enrekang, sekitar 270 km di utara Makassar, setidaknya kita mengenalnya sebagai aktivis mahasiswa pada tahun 1960an, tokoh HMI, anggota DPR, intelektual, dan sebagai Kepala Bulog.

Pertama kali saya mendengar nama Beddu Amang ketika saya baru saja menjadi mahasisiwa di Yogyakarta, tahun 1971. Mendengar namanya, saya dapat memastikan bahwa dia berasal dari suku Bugis. Sebab lidah orang Bugis lebih enak mengucapkan Abdul atau Abdur dengan Beddu. Sedangkan Rahman dibugiskan menjadi Amang atau Ramang, seperti pemain bola legendaris PSM Makassar. Atau Ibrahim tapi lebih mantap disebut Borahing.

Di Yogya pada waktu itu, sering dibincangkan mengenai ‘legenda hidup’ Beddu karena dia yang mempelopori aksi-aksi mahasiswa menghadapi PKI. Aksi-aksi ini, diikuti HMI, PMII, Pemuda Muhammadiyah, Ansor, PMKRI, GMKI dan lain-lain. Yogyakarta yang dikenal sebagai salah satu basis PKI menjadikan kotan ini mudah memanas. Tidak mengherankan apabila Kolonel Katamso Darmokusumo, Komandan Korem 072/Pamungkas dan Letnan Kolonel Sugiyono terbunuh oleh PKI pada waktu meletusnya G30S/PKI, 1 Oktober 1965.

Di era tahun 1960an, masa dimana HMI dianggap reaksioner, anti Nasakom, anti Soekarno. Oleh karena itu PKI mendesak agar HMI dibubarkan. Tekanan-tekanan PKI menyebabkan Beddu harus berpindah-pindah tempat menginap. Barulah dia merasa aman ketika Komandan RPKD, Kolonel Sarwo Edie, turun untuk mengamankan kota ini.

Beddu terpilih dua kali sebagai Ketua HMI Yogyakarta. Yang pertama terjadi pada tahun 1962, dan kedua 1963/1964. Terpilihnya untuk kedua kalinya akibat buntunya formatur membentuk pengurus baru. Sulastomo, Ketua Umum PB HMI, turun tangan memutuskan keadaan ini dengan menetapkan kembali Beddu sebagai Ketua. Apalagi keadaan dewasa itu dirasa genting menghadapi aksi-aksi PKI.

Beddu juga memainkan peran penting dalam konflik di IAIN, Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Konflik terjadi karena ada anggapan bahwa terjadi NU-nisasi di kampus ini. Dosen-dosen yang bukan NU mengambil sikap mogok mengajar. Sebagai Ketua HMI, Beddu mengumpulkan semua yang bertikai dan menyatukan dalam satu wadah. Dan keluarlah Piagam Demangan. Piagam ini mengatur pembentukan senat dan dewan mahasiswa. Namun, tak seorangpun HMI Koordinator Komisariat (Korkom) di kampus tersebut yang mau menandatangani piagam tersebut. Terpaksa Beddu sebagai Ketua HMI mengambil alih menanda tangani piagam tersebut. Dengan demikian tercapailah perdamaian itu.

Setelah menyelesaikan jabatan sebagai Ketua HMI Yogyakarta, Beddu sempat menjadi salah satu Ketua PB HMI di Jakarta. Ini merupakan hasil Kongres di Solo tahun 1966 yang menetapkan Nurcholish Madjid sebagai Ketua Umum dengan mengalahkan Ekky Syahruddin.

Peranan sebagai aktivis mahasiswa yang berani menghadapi PKI mendudukannya kemudian sebagai Ketua Bidang Hubungan Eksternal di Sekretariat Bersama Golkar. Dari situ dia kemudian menapakkan kakinya masuk ke dunia politik sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong pada tahun 1968. Tetapi ini tidak berlangsung lama karena dia dianggap anti dwi fungsi ABRI.

Dalam Sidang Istimewa MPR-Sementara dia tampil sebagai juru bicara dari Fraksi Ke-17 dari Sekber Golkar. Fraksi ini adalah wakil-wakil golongan Islam, non-partai. Dalam pidatonya Beddu menyampaikan bahwa Kopkamtip (Komando Pemulihan Keamana dan Ketertiban) tidak diperlukan lagi karena masa transisi telah lewat dan Soeharto sudah diangkat penuh sebagai Presiden. Ini oleh Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Nasional) dianggap anti dwi fungsi ABRI. Dan untuk itu dia dipanggil berkali- kali oleh Bakin dan dicekal keluar negeri.

Sekalipun dia membantah anti dwi fungsi karena tidak menyebut sekalipun dalam pidatonya. Namun, tetap dianggap demikian sehingga Ahmad Tirtosudiro, atasannya di Bulog (Badan Urusan Logistik), meminta dia memilih apakah tetap di politik atau meneruskan karier di Bulog. Karena selama ini dia sudah berkarier di Bulog.

Karier di Bulog

Akhirnya Beddu memilih karier di Bulog. Tetapi ada kegelisan, karena dia merasa kurang dalam menghadapi para menteri yang bergelar doktor pada saat rapat dengan mereka. Ketika ada tawaran melanjutkan studi ke AS langsung diterimanya. Lagi pula sulit untuk menduduki Eselon I, yang biasanya menjadi jatah ABRI. Tahun 1976 berangkatlah Beddu dengan memboyong isteri dan anak-anaknya.

.           Selama delapan tahun (1976-1984) dia mengambil kuliah Universiy of California, Davis, Amerika Serikat. Hidup di Amerika terasa berat dengan kuliah yang ketat dan mengurus tiga orang anaknya. Namun, akhirnya dia dapat menyelesaikan program master dan doktor di bidang ekonomi.

Sekembalinya ke Indonesia posisinya hanya sebagai staf ahli di Bulog. Dalam posisi ini waktunya dipakai untuk mengikuti, antar lain Lemhanas, Penataran P-4 dan sekaligus juga menyempatkan diri mengajar. Barulah pada tahun 1988-1993 Beddu meraih jabatan Deputi Pengadaan dan Penyaluran ketika jabatan Eselon I dari ABRI ditiadakan.

Setelah menjadi Kepala Bulog (Kabulog) menggantikan Prof. Ibrahim Hasan, kita dapat mencermati beberapa langkah penting yang dilakukan Beddu. Pertama kali adalah dihapusnya jabatan Deputi Perencanaan dan Wakil Kepala Bulog. Di bawah Kabulog terdapat lima deputi yang langsung bertanggung jawab kepada Kabulog. Kelimanya dari sipil. Belakangan baru diangkat seorang militer yang sudah lama berkarier di Bulog.

Ketika ada rencana bertemu Presiden Soeharto, Menko Ekuin Saleh Afiff, Ketua rombongan mengingatkan agar tidak membicarakan PT Sarpindo. Pabrik pakan ternak ini dikelolah keluarga Soeharto. Kalau disinggung dikuatirkan akan membuat Soeharto marah. Beddu sepakat tidak membicarakan ini. Tetapi ketika ada kesempatan bertemu Presiden sendiri pada September 1995, Beddu lalu menyampaikan soal PT Sarpindo yang sudah lama diamatinya. PT Sarpindo sudah dikritik orang termasuk Bank Dunia karena menciptakan keadaan ekonomi tidak efisien. Presiden kemudian menyetujui penjelasan Beddu dan menutup PT Sarpindo.

Dalam melihat peranan International Monetry Fund (IMF) yang menginginkan Bulog hanya mengurusi beras dalam Letter of Intent (LoI) pada tahu 1997. Pada waktu itu Beddu tidak terlibat. Baru pada LoI berikutnya Beddu terlibat. Dalam perundingan itu dia menolak liberalisasi dan swastanisasi yang diinginkan IMF. Dan kemudian menyetujui Bulog mengimpor beras, gula, kedelai, pakan dan sebagainya. Hal yang dapat digunakan Bulog untuk menstabilkan harga. Tetapi ini tidak berlaku lagi ketika Beddu tidak menjabat Kepala Bulog pada Oktober 1998, ketika pemerintahan sudah ditangan

Presiden Habibie. Disinilah kemudian diberlakukan bea masuk nol bagi impor beras, gula, terigu, dan kedelai. Ini tentu merugikan petani karena kalah bersaing dengan barang impor. Yang diuntungkan adalah pedagang atau pengimpor.

Kebijaksanaan Beddu yang dulu memisahkan perangkapan jabatan Menteri Urusan Pangan dan Kepala Bulog. Kini kembali lagi perangkapan itu. Kepala Bulog dirangkap oleh Menteri Perindustian dan Perdagangan. Inilah yang sering berlaku setiap ganti pimpinan, lalu ganti aturan.

Tidak berapa lama setelah diberhentikan dengan hormat oleh Presiden Habibie, Beddu menghadapi proses hukum dengan dakwaan tindak pidana korupsi. Beddu didakwa telah merugikan Bulog/Negara dalam kasus ruilslag (tukar guling) antara PT Gorom Batara Sakti (GBS} dengan senilai Rp 95,4 milyar. Proses ruilslag ini dimulai pada masa Ibrahim Hasan kemudian diteruskan Beddu melalui kesepakatan kedua pihak pada 17 Februari 1995. Dari pihak PT GBS ada Tommy Soeharto dan Ricardo Gelael.

Akhirnya perjanjian ruilslag dibatalkan oleh Kepala Bulog/Menperindag Rahardi Ramelan dan Direktur Utama PT GBS Nurdin Halid. Tetapi dakwaan kepada Beddu Amang terus berlanjut sampai masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Akhirnya Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 5 Nopember 2001 menjatuhkan vonis dua tahun penjara dipotong masa tahanan dan denda atas kerugian negara sebesar Rp 5 milyar.

Beddu menyatakan banding dan tidak menerima putusan majelis hakim. Dia mengatakan bahwa negara tidak dirugikan. Hasil penjualan tanah di Marunda, Jakarta Utara, justru menguntungkan negara sebesar Rp 9,4 milyar. Dalam pandangan Beddu dalam era Presiden Habibie dan Presiden Abdurahman Wahid banyak kasus hukum ditangani berdasarkan tekanan masyarakat.

Aktivitas Lainnya

Aktivitas memberikan kuliah, ceramah, dan sejumlah tulisannya menyebabkan beberapa universitas menawarkan pemberian gelar professor. Akhirnya tawaran dari Universitas Hasanuddin diterimanya. Pada tanggal 6 September 1997 memperoleh gelar professor di bidang ekonomi pertanian. Dalam pidato pengukuhannya dia mengambil tema “Peran Sektor Pertanian Menuju Pengembangan Ekonomi Kerakyatan dalam Pembangunan Ekonomi Nasional”.

Dalam kepengurusan beberapa organisasi nampaknya Beddu sangat dipercayai sehingga tidak cukup satu priode dipegangnya. Misalnya saja, sebagai Ketua Umun Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) dipilih untuk tiga periode 1988-1991, 1991-1995, dan 1995-1999. Sampai empat periode masih diinginkan, tetapi ditolaknya. Hal yang sama dialaminya dalam memimpin Keluarga Alumni HMI (KAHMI), Beddu menjadi Ketua Presidium dua periode, yaitu tahun 1991-1995 dan 1995-1999. Pada masa itu, dia bersama Akbar Tandjung dkk mendirikan Gedung Yayasan Bina Insan Cita, Jl. Prof. Lafran Pane, Depok. Sebuah gedung berlantai tiga. Cukup luas untuk kegiatan-kegiatan kader-kader HMI dan dimanfaatkan pula untuk disewakan.

Meskipun telah meninggalkan Yogyakarta Beddu tetap saja memberikan perhatian besar terhadap alumni HMI dari kota ini. Ini tentu lepas dari kecintaan yang tumbuh selama sepuluh tahun dihabiskan disana. Untuk mewujudkan bagi adanya lembaga yang dapat mempertemukan para alumni dari Yogyakarta, maka dibentuklah Yayasan Amal Insani (YAI) pada tahun 1994. Sebagai pengurus pertama yayasan ini dipegang Beddu sebagai Ketua dan Mahadi Sinambela sebagai Sekretaris. Atas dukungan dari Beddu dan berapa teman-teman maka dibangunlah sebuah gedung di kota gudeg. Gedung ini terpelihara dengan baik. Banyak orang memberi penilaian alumni HMI Yogyakarta memiliki keakraban yang cukup tinggi. Dan yayasannya banyak memberikan bea siswa bagi mahasiswa Yogyakarta, terutama mereka tidak mampu namun memiliki prestasi yang bagus.

Saya dan beberapa teman sempat menemui Beddu sebelum merebak Covid 19 dalam tahun 2019. Dalam kesempatan itu kami membicarakan perkembangan YAI setelah meninggalnya Ketua YAI Mahadi Sinambela. Beddu banyak memberi support agar yayasan ini semakin maju. Dan dia kemudian menjadi host bagi diselenggarakan acara buka puasa, yang merupakan buka puasa terakhir sebelum Covid 19.

Begitulah sekilas kisah Beddu Amang. Kita kehilangan orang yang penuh dedikasi dan pengabdian pada masyarakat. Dari dia pula kita memetik pelajaran tentang ketekunan dan keberanian mengambil keputusan yang tepat tanpa kuatir dengan reziko yang dapat ditimbulkannya.

Oleh: Ibrahim Ambong, (Ketua Yayasan Amal Insani).

Bacaan:

  1. Beddu Amang, Biografi dan Pemikiran. Penerbit Yayasan Amal Insani, Jakarta, 2002.
  2. liputan6.com, Beddu Amang Dihukum Dua Tahun Penjara, 6 Nopember 2001.
  3. tirto.id, Brigjen Katamso, Korban Tragedi 1965 di Yogyakarta, 2017.
Please follow and like us:
Tweet 20
fb-share-icon20

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *