Inilah 12 tanda orang Ikhlas yang jarang diketahui setiap Muslim

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal. Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.

Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras (nampi beras) dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.

Suatu amal kebajikan yang dilakukan dengan semata-mata selainnya karena mengharap ridha dan karena Allah. itu adalah beramal dengan ikhlas. Sedangkan ikhlas itu sendiri adalah merupakan ruh dari suatu amal, dan amal kebajikan yang diamalkan oleh seseorang yang tidak disertai dengan ikhlas adalah amal yang tidak mempunyai ruh, yakni suatu amal yang ditolak oleh Allah. Untuk mengukur apakah amal saleh yang kita lakukan termasuk kita termasuk orang ikhlas, Yusuf Qardawi dalam bukunya Niat dan Ikhlas. (2008) Menjelaskan tentang tanda orang Ikhlas, yaitu;

Tanda-tanda Keikhlasan

Untuk mengukur apakah amal saleh yang kita lakukan termasuk kita termasuk orang ikhlas, Yusuf Qardawi dalam bukunyaNiat dan Ikhlas. Menjelaskan tentang tanda orang Ikhlas, yaitu  

1.   Takut Ketenaran.

Orang yang ikhlas meyakini bahwa penerimaan amal disisi Allah  hanya dengan cara sembunyi-sembunyi, tidak secara terang-terangan apalagi diekpos. Mereka mengkhawatirkan dan menyangsikan hatinya dari ujian ketenaran, tipuan, kedudukan dan kemasyhuran.

2.   Menuduh Diri Sendiri.

Orang  yang mukhlis selalu waspada dan senantiasa menuduh dirinya sendiri sebagai orang yang berlebih-lebihan disisi Allah dan selalu kurang dalam melaksanakan kewajiban, merasa terpedaya oleh amalnya dan ta’jub terhadap dirinya sendiri. Bahkan dia takut keburukannya tidak diampuni dan  sebaliknya takut  kebaikan-kebaikannya  tidak diterima .

Sayyidah Aisyah r.a pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang orang yang dinyatakan dalam firman Allah,” Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka(QS. Al Mukminuun [23] : 60), “Apakah mereka orang-orang yang mencuri, berzina, meminum khamr dan mereka takut kepada Allah? Rasulullah Saw menjawab, “Bukan wahai putri Ash Shidiq, tetapi mereka adalah orang-orang yang mendirikan shalat, berpuasa mengeluarkan shadaqah dan mereka takut amalnya tidak diterima. Mereka itu bersegera untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang memperolehnya (HR. Ahmad )

3.   Beramal secara diam-diam jauh dari sorotan

Orang yang  ikhlas lebih suka menjadi prajurit bayangan yang rela bekorban namun tidak diketahui dan menjadi pejuang yang tidak dikenal. Dia lebih suka menjadi bagian dari suatu jama’ah  layaknya akar pohon yang menjadi penopang  kehidupan, tetapi tidak terlihat mata, tersembunyi di dalam tanah, atau seperti pondasi bangunan. Tanpa pondasi, dinding tidak dapat ditegakan  dan atap tidak bisa dibentangkan dan yang pasti bangunan tidak dapat ditegakan.

Dalam suatu hadits yang disampaikan oleh sahabat Muadz, “ Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan, bertakwa  dan menyembunyikan amalnya, yaitu jika ia tidak hadir mereka tidak dianggap hilang dan jika hadir mereka tidak diketahui. Hati mereka adalah pelita-pelita petunjuk. Mereka keluar dari tempat yang gelap”

4.   Berbuat Selayaknya Dalam Memimpin.

Orang mukhlis akan berbuat selayaknya ketika menjadi pemimpin di barisan terdepan dan ketika berada di barisan belakang dia tetap patriotik, selagi dalam dua keadaan itu dia mencari keridhaan Allah. Rasulullah Saw telah menyifati kelompok itu  dalam sabdanya, “keberuntungan bagi hamba yang mengambil tali kendali kudanya fi sabilillah, yang kusut kepalanya dan yang kotor kedua telapak kakinya. Jika kuda itu berada di barisan belakang, maka dia pun berada di barisan belakang, dan jika berada diposisi penjagaan dia pun berada di posisi penjagaan (HR.Bukhari).

5.   Tidak menuntut Pujian

Serang yang Ikhlas adalah mereka yang  bersikap, jika ada seseorang memujinya, maka dia tidak terkecoh dengan hakekat dirinya di hadapan orang yang memujinya, karena dia lebih mengetahui tentang rahasia hati dan dirinya daripada orang lain.

6.   Tidak kikir Pujian

Memuji seseorang mempunyai  dua sisi yang dapat menimbulkan bencana, sisi pertama memberikan pujian dan sanjungan kepada orang yang tidak berhak, di sisi kedua kikir memberikan pujian kepada orang yang berhak.

7.   Mencari Keridhaan Allah

Orang yang ikhlas  beramal semata-mata mencari kerindhaan Allah bukan keridhaan manusia. Sebab boleh jadi jika orang ingin mendapat keridhaan  manusia  tetapi  dibalik itu ada kemurkaan Allah. Hal ini sangat sulit, karena kecenderungan manusia membuat orang ridha lebih utama daripada keridhaan Allah. Disinilah letak titik kritis bagi orang yang benat Ikhlas

8.   Rakus terhadap amal yang bermanfaat.

Orang yang mukhlis lebih mementingkan amal yang lebih banyak manfaatnya dan lebih mendalam pengaruhnya, tanpa disusupi hawa nafsu dan kesenagan diri sendiri. Dia banya mengerjakan puasa  nafilah dan shalat-shalat sunat. Tetapi jika ada yang lebih besar pahala maka akan dikerjanya. Misalnya mendamaikan orang yang sedang bertikai maka kegiatan menjadi utama. Hal dijelaskan dalam suatu hadits. Rasulullah Saw, ‘ Ketahuilah, akan keberitahukan kepada kalian tentang sesuatu yang utama dari pada derajat  puasa dan, shalat dan shadaqah. Yaitu mendamaikan diantara sesama manusia . Sebab kerusakn diantara sesama manusia adalah pemotong (HR Abu Dawud dan At Tirmidzi)

9. Merasa Senang jika ada yang bergabung.

Merasa senang jika ada yang bergabung dalam kelompoknya, dia tidak merasa terganggu, terganjal, dengki ataupun gelisah karena kehadiran orang lain. Bahkan, bagi seorang yang benar-benar ikhlas melihat ada orang lain yang lebih baik darinya mau mengambil tanggung jawab, maka dengan senang hati hati akan mundur, memberi tanggung jawabnya kepada orang itu dan dia merasa senang senang menyerahkan tanggung jawab. Hal ini disebabkan ia berorientasi  pencapaian suatu tujuan lebih utama dalam  lingkup mencari keridhaan Allah.

10.   Menghindari Ujub

Diantara tanda kesempurnaan ikhlas ialah tidak merusak amal dengan ujub, yaitu merasa senang dan puas terhadap amal yang telah dilakukannya. Sikap seperti  ini bisa membutakan matanya untuk melihat celah-celah sewaktu yang sewaktu-waktu muncul.  Orang yang ikhlas menghindari ujub, karena dengan ujub amalnya tidak diterima oleh Allah.

Orang  Mulim harus waspada, jangan sampai ujub terhadap diri sendiri, karena kesalehan yang dilakukan. Dia mempunyai keyakinan bahwa hanya dialah  yang beruntung sedang yang lain merugi. Atau menyatakan semua kaum Muslimin rusak, hanya dirinya yang baik.  Atau hanya  kempok dialah yang mendapat pertolongan Allah sedang kelompok lain ditelantarkan. Hal seperti ini tidak terjadi bagi orang ikhlas.

11.   Menjadikan Keridhaan dan kemarahan karena Allah.

Orang yang mukhlis wujud keridhaannya dan kemurkaan harus dilakukan karena Allah, bukan karena pertimbangan kepentingan pribadi. Hal ini dicela oleh Allah dalam firman-Nya, Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat; jika mereka diberi sebahagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah. (QS At Taubah [9]: 58)

12.   Peringatan agar Membersihkan Diri

Hamba yang ikhlas selalu membersihkan dirinya dari segala sesuatu yang merusak keikhlasannya. Dan dia juga berusaha menjaga dirinya terbuai dengan pujian dan sanjungan. Apalagi untuk untuk menyatakan dirinya suci, Orang yang ikhlas, sadar benar bahwa Allah lebih mengetahui tentang dirinya apakah dia suci atau tidak.

 Allah berfirman, “Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS An Najm : 32)

Itulah beberapa tanda-tanda orang yang ikhlas, sebagai cerminan bagi kita untuk mengukur tingkat keikhlasan diri kita dalam beribadah kepada Allah. Rasulullah Saw bersabda, “ Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad dan rupa-rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian,” Beliau memberi isyarat ke arah hati dengan jari-jari tangan dan berkata,” Takwa itu terletak disini. Dan beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali (HR. Muslim)

Please follow and like us:
fb-share-icon
Tweet 20
fb-share-icon20

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *